Ketegangan Timur Tengah Memanas, Ust Sahlan Rafiqi Serukan Perdamaian dan Sikap Tegas Indonesia

Eskalasi konflik di Timur Tengah kembali memicu perhatian dunia setelah terjadinya serangan militer yang melibatkan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran. Peristiwa tersebut dinilai berpotensi memperluas konflik kawasan dan mengancam stabilitas global.
Menanggapi hal itu, Ust Sahlan Rafiqi, Pembina Yayasan Suara Qur’an Indonesia, menyampaikan keprihatinan mendalam atas meningkatnya ketegangan tersebut. Ia menilai bahwa pendekatan militer hanya akan memperpanjang rantai konflik dan memperbesar dampak kemanusiaan.
“Setiap bentuk agresi yang melampaui batas kedaulatan suatu negara berpotensi menimbulkan instabilitas yang luas. Dunia saat ini membutuhkan solusi damai, bukan eskalasi senjata,” ujar Ust Sahlan dalam pernyataannya di Jakarta.
Menurutnya, konflik terbuka antara kekuatan besar di kawasan Timur Tengah tidak hanya berdampak pada negara yang terlibat langsung, tetapi juga berimbas pada stabilitas ekonomi dan keamanan global, termasuk Indonesia. Ia mengingatkan bahwa jalur distribusi energi dunia dan stabilitas perdagangan internasional dapat terganggu apabila konflik terus meningkat.
Ust Sahlan juga menyoroti pentingnya peran lembaga internasional dalam meredam ketegangan. Ia menyebut bahwa mekanisme diplomasi di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa harus dioptimalkan untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.
Terkait dengan keberadaan Board of Peace (BoP), ia menjelaskan bahwa forum tersebut pada prinsipnya dibentuk untuk mendorong stabilisasi kawasan konflik, memperkuat rekonstruksi pascaperang, serta memfasilitasi dialog antarnegara. Namun, menurutnya, efektivitas forum tersebut sangat bergantung pada komitmen nyata negara-negara besar untuk menjunjung tinggi hukum internasional.
“Perdamaian tidak cukup dibangun melalui forum dan deklarasi. Ia memerlukan konsistensi sikap, penghormatan terhadap kedaulatan, dan komitmen untuk menghentikan kekerasan,” tegasnya.
Dalam konteks nasional, Ust Sahlan mendorong Republik Indonesia untuk tetap berpegang pada prinsip politik luar negeri bebas dan aktif. Ia meminta pemerintah agar secara tegas menyerukan de-eskalasi konflik, mengutamakan jalur diplomasi, serta memastikan setiap langkah kebijakan luar negeri tetap sejalan dengan amanat konstitusi untuk ikut menjaga ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
Ia juga mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan pemerintah dalam menghadapi dampak ekonomi global yang mungkin timbul akibat konflik tersebut, terutama terkait stabilitas harga energi dan ketahanan nasional.
“Indonesia harus menjadi suara moral yang konsisten di tengah ketegangan dunia. Perdamaian adalah kepentingan bersama umat manusia,” tutup Ust Sahlan Rafiqi.
